Jumat, 05 November 2010

Ekonom Dunia: Indonesia sebagai Pesaing Baru bagi Brazil dan Russia

Pemerintah Indonesia sepertinya tidak ingin terlalu kaku dalam menjalankan pemerintahan bidang ekonomi dengan sebutan atau gelar-gelar tertentu. Alasan itu yang membuat pemerintah tidak terlalu memperjuangkan Indonesia agar masuk negara kelompok BRIC, yakni Brasil, Rusia, India, dan China. Bahkan, majalah Inggris edisi terbaru, The Economist, kini menciptakan terminologi baru yang terdiri atas negara Colombia, Indonesia, Vietnam, Mesir, Turki, dan Afrika Selatan (CIVETS). "Jadi bukan hanya BRIC, tapi kini ada CIVETS," kata Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar di Hotel Ritz Carlton, Jakarta. Dia menegaskan bahwa apa yang dilakukan pemerintah sekarang adalah lebih kepada melihat daya saing Indonesia terhadap dunia internasional."Karena kunci keberhasilan itu apakah berhadapan dengan produk China, atau dalam negeri sendiri guna menembus pasar internasional adalah daya saing," kata Mahendra.

Menurut dia, kapan dan akankah Indonesia masuk kelompok BRIC, sehingga menjadi BRICI, pemerintah tidak peduli. "Itu kan hanya istilah yang dikemukakan oleh lembaga investasi. Itu hanya singkatan mereka yang digunakan untuk mencerminkan potensi return, jadi tidak terpaku pada istilah," ujar Mahendra. Saat ini, pemerintah berkeyakinan bahwa posisi Indonesia sudah cukup baik. Dalam hal daya saing di kawasan, hanya China yang terdepan. "Indonesia setara lah dengan China," tuturnya. Yang dimaksud setara itu adalah dalam hal pasar, potensi, dan juga kemampuan sumber daya. Dengan istilah BRIC, apa yang dipandang pemerintah adalah bagaimana bisa belajar dari kawasan yang memang dianggap negara sukses dalam hal lokasi investasi. "Itu saja yang dilihat. Jadi tidak hanya terbentur jadi BRICI," kata dia. Karena menurut Mahendra, persaingan yang adil di dunia internasional itu perlu diciptakan dan ditingkatkan. Mahendra tidak terlalu setuju Indonesia disebut tertinggal dibanding BRIC atau istilah apa pun. Sebab, kalau hanya terbentur BRIC atau terpaku pada istilah itu, maka dianggap tidak tepat lagi. [att/add/vn]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar